Selamat Datang di http://ubaidshakera.blogspot.com/ SaLam Pote Tolang..!.Selamat Datang di http://ubaidshakera.blogspot.com/ SaLam Pote Tolang..!. Poteh Tolang: Jejak Langkah

Ubaid Shakera

Presentasi di LSM SIDAK Yogyakarta (Sentra Data dan Informasi Untuk Anti Korupsi)

Sarasehan Nasional

Foto bersama dengan perwakilan KPK dan LSM anti korupsi dalam Acara Sarasehan Nasional BEM-J Sosiologi Agama 2012

Ekstra Kampung

Foto bersama di Dusun Tanggung Kec Panggang Kab.Gunungkidul Yogyakarta di Acara hari jadi dusun tanggung

Sahabat AnGkatan Jurusan SosioloGi AGama

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Langkah. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 September 2013

Pak Rektor, Ijazahku Wes Keluar. Piye..?


Pada tanggal 24-25 Agustus 2013 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sukses mewisuda 1468 orang dari lulusan Diploma 82 orang, Sarjana 1221 orang dan Magister 154 orang serta Doctor 11 orang. Dalam sambutannyya, Prof.Musa Asy’ari sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga mengungkapkan bahwa kita patut berbangga hati karena wisuda periode kali ini adalah periode wisuda special dengan jumlah wisudawan terbanyak dibandingkan periode-periode wisuda tahun sebelumnya.
Bagi seorang sarjana muda tentu proses hidup tidak akan berhenti di hari prosesi wisuda yang kala itu sakejab menyulap menjadi hari yang membanggakan dan membahagiakan. Setelah lulus kuliah dan berhasil memperoleh gelar sarjana pasti akan banyak pertanyaan yang hendak dijawab, “ya..mau kemana?. Maka untuk sementara jawaban yang tepat, kamu kerjain apa sajalah yang penting tidak terlihat seperti orang penganguran.
Masa transisi yang dialami sarjana muda seperti keadaan menjenuhkan, membosankan dan bahkan mengalami stress merupakan sesuatu yang wajar dirasakan, hal ini akibat transformasi ruang yang semula nyaman beraktifitas di lingkungan kampus, setelah wisuda terlepaskan dan dibenturkan dengan sulitnya memperoleh ruang aktifitas baru hingga terjebak dalam ruang pengangguran. Hal itu disebabkan oleh banyaknya lulusan sarjana dan sulitnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan serta tekanan lingkungan social masyarakat dan keluarga yang seolah-olah memberi suatu ukuran bahwa eksistensi keberhasilan sarjana yaitu dapat dilihat dari sukses tidaknya memperoleh suatu pekerjaan.
Kondisi demikian memberikan suatu implikasi dan pengaruh besar terhadap sebuah pilihan langkah hidup. Sebagaimana informasi yang didapatkan oleh penulis bahwa lebih dari 50% (wawancara dengan teman-teman lulusan priode 2012/2013) sarjana mengatakan sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang keilmuan. Ironisnya mereka mengahiri kebingungan dengan melamar pekerjaan yang sama sekali tidak ada relevansi dengan keilmuan yang ditekuninya. Seperti sarjana pendidikan misalnya yang bekerja di kasir swalayan, sarjana sosiologi bekerja jadi pelayan lesehan warung makan dan sarjana hukum bekerja di pabrik perusahan.
Jika seperti ini, saya tidak salah mengatakan bahwa kampus yang kita percaya hanya sebagai kantong para cadangan tukang-tukang pekerja serabutan oleh siapa saja yang ingin menggunakannya asalkan bermodal dan berkuasa. Lantas yang menjadi pertanyaan besar adalah kemana wajah-wajah mahasiswa yang katanya dahulu sebagai sosok yang selalu berada di garda terdepan sebagai elemin bangsa yang memiliki daya kritis dan transformatif.
Pak Rektor, Ijazahku Wes Keluar. Piye..?. Seakan tidak tahu siapa yang harus disalahkan, mereka semua mimang tidak salah dan mereka memilih untuk diam melihat para sarjana kebingungan. Dalam hal ini penulis ingin menegaskan bahwa pendidikan sejatinya dibangun untuk melahirkan sarjana yang cendekia yang siap memberikan sumbangsi terhadap bangsa dan Negara sesuai dengan keilmuan dan proses selama di kampus. Bukan untuk memenuhi bangku cadangan para tukang serabutan yang siap menunggu panggilan.
Mari kita bangun kesadaran diri jangan terjebak pada hal yang pragmatis hingga kita dengan mudah mengahiri proses. Sarjana adalah harapan bangsa dan Negara, maka wajib hukumnya untuk membangun dan mendirikan kembali kekuatan bangsa tampa harus melalui jalan formal sekalipun…sukses
Selamat membaca tulisan sarjana melewati masa-masa kejenuhan.!
Penulis:
Subaidi, S.Sos
(Wisudawan Periode 2012/2013 UIN SUKA YK)
17 September'13





Jumat, 26 Juli 2013

Emma'...!! Akhirnya Aku Juga Sarjana

Setelah melalui proses panjang dalam menempuh masa studi strata satu di Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis berhasil menyelesaikan penelitian di daerah Sumenep sebagai tugas akhir dan sekaligus memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial (S.Sos). Penelitian tersebut mengangkat sebuah tema yang berjudul AGAMA DAN KORUPSI (Transformasi Kekuasaan Kiai di Sumenep).
Penelitian ini mengkaji tentang agama dan korupsi yang berangkat dari pemahaman suatu kajian tentang bagaimana proses transformasi kekuasaan kiai yang semula berkuasa di ruang keagamaan ke ruang kekuasaan birokrasi negara (pemerintahan).Kiai adalah sosok yang memiliki kharismatik sekaligus sebagai tokoh percontohan “reference group” yang lahir dari sebuah gagasan dalam kultur masyarakat keagamaan. Kondisi tersebut mampu menciptakan ruang-ruang kekuasaan yang mengantarkan kiai ke dalam ruang kekuasaan birokrasi negara melalui proses dinamika politik. Sedangkan korupsi dalam konteks studi ini, merupakan sebuah kajian dengan menelaah pengaruh dari transformasi kukuasaan kiai tersebut, apakah hal demikian memiliki pengaruh terhadap tumbuhnya budaya korupsi di Sumenep.
Metode penelitian yang diterapkan adalah penelitian lapangan “Field Research” yang dilakukan di daerah kabupaten Sumenep. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam (indepth interview) terhadap sejumlah informan kunci seperti mantan DPRD Sumenep, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait, masyarakat umum dan sebagian dari kalangan kiai, baik yang pernah terlibat dalam perpolitikan maupun yang tidak pernah terlibat, guna mengungkap rahasia-rahasia menyangkut persoalan fenomena tindakan korupsi. Penelitian ini berusaha menganalisis secara deskriptif dari segala sumber yang berhasil diperoleh selama penelitian di lapangan. Sebagai dasar analisis, penelitian ini menggunakan teori pertukaran sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses transformasi kiai ke dalam kekuasaan berokrasi negara mewarnai pola dinamika politik dan proses perjalanan pemerintahan di Sumenep. Keyakinan dan kepercayaan masyarakat terhadap sosok kiai di dalam birokrasi negara menuai harapan bahwa keterlibatan kiai dapat memberikan pengaruh terhadap pola pemerintahan yang bersih dan lebih baik di Sumenep. Namun sebagian dari kiai tidak mampu mewujudkan karena ruang birokrasi yang penuh dengan kepentingan politik. Bahkan ikut terlibat dan menjadi bagian dari terciptanya perilaku-perilaku korupsi dalam birokrasi negara. Persoalan mentalitas sebagian elit kiai yang dibawa dari kultur keberagamaan adalah sesuatu yang dominan sebab terjadinya tindakan korupsi di Sumenep. Menariknya, mereka sebagian kiai membangun upaya rasionalisasi untuk menetralisir yang semula korupsi sesuatu yang salah dianggap sesuatu yang wajar dan tidak salah selama niat korupsi demi jalan kebaikan bersama. Pada akhirnya penelitian ini berusaha mendiskripsikan hasil penelitian sebagai upaya bersama-sama membuka kesadaran masyarakat akan pentingnya mengenali fenomena korupsi guna memberantas tindakan kejahatan korupsi.